Senin, 28 Desember 2009

Si Jumawa dan para anjing (the power of rupiah)


Sungguh miris hati saya melihat fenomena yag terjadi dimasyarakat kita sekarang ini, bagaimana tidak anda bisa mengadaikan masa depan, idealisme, harga diri anda dengan selembar kertas berdimensi tak lebih dari sehelai daun?. Ah jangan bicara idealisme, harga diri, dll kalau anda bicara kebutuhan perut, mungkin begitu mudah anda berkata seperti itu karena anda tidak pernah merasakan betapa sulitnya mendapatkan uang lima ribu, anda biasa hidup nyaman dan tak pernah berkekurangan? Bagi kami mendapatkan uang lima puluh ribu dengan hanya datang berkumpul untuk memenuhi kuota atau menyetujui sesuatu, atau ada istilah nge-trend AMBIL UANGNYA, MASALAH SETUJU NANTI, toh mereka yang memberi uang juga tidak tahu apa yang dipikiran kami. Kebanyakkan orang akan menjawab seperti itu. Pemikiran yang umum ya kawan?, anda salah kalau berpikir anda telah memperdaya orang yang memberi uang tersebut, boleh saja memang anda tidak akan memilih orang tersebut, tapi tahu kah anda bahwa dia telah membeli harga diri anda disaat menerima uang tersebut? Saya tidak akan terkejut kalau anda tidak akan peduli dengan itu. Anda mungkin belum sempat berpikir bahwa individu anda adalah bagian kecil dari sebuah kelompok besar. Anda dibeli maka satu kelompok anda akan dicap sebagai “orang-orang yang mudah dibeli”. Tahukah anda bahwa mereka-mereka itu akan menertawakan kelompok anda dan mengatakan : ah orang-orang itu gampang, kasih duit aja beres!!!!. Fenomena lain bahwa lingkungan kita adalah lingkungan yang acuh. Mungkin banyak yang sependapat/ sepaham dengan yang saya utarakan ini tapi mereka tidak peduli dengan hal itu, yang penting saya tidak seperti mereka, hidup saya tidak terganggu kok. Ketidak pedulian semacam inilah yang disenangi orang-orang berduit itu, orang kecil mudah dibeli, orang besar tak akan berbunyi, sebesar apapun anda YOU’RE STILL IN MY AUTHORITY, anda macam-macam anda akan tidak menjadi siapa-siapa. Kesimpulannya kita selalu ingin bermain aman, anda akan memilih mengakui : ya saya adalah seorang pengecut, saya tidak berdaya, saya cuma seorang masyarakat biasa, saya seorang pengecut yang akan membiarkan seorang penjambret lewat begitu saja didepan saya tanpa bisa mencegah atau menolong sikorban, biarkan saja orang bilang saya bodoh dan gampang diperdaya yang penting saya tidak ada urusan dengan mereka. Pemikiran singkat yang tidak bertanggung jawab, pemikiran egois yang tidak memikirkan masa depan anak-anak/ cucu anda. Alangkah jumawanya mereka melihat masyarakat kita, masyarakat bodoh yang mudah dibeli, mudah diadu dombakan. Anda yang sedang berada diataspun tidak akan berbuat apapun karena anda sedang dihadapkan disebuah meja besar penuh makanan dan minuman lezat yang dihidangkan oleh si Jumawa. Anda akan menikmati itu disaat anda masih satu meja dengan si Jumawa dan anda akan mengajak saudara/kerabat anda untuk menikmati sedapnya perjamuan tersebut, biarkan anjing-anjing itu menyalak lemparkan remah-remah roti atau secuil daging maka mereka akan diam. Alangkah dahsyatnya anda bersama si Jumawa, ya anda memang lumayan pintar-pintar bodoh si pemain yang dilengkapi dengan peralatan keamanan lengkap, selama anda dalam lingkaran meja perjamuan anda akan aman. Tapi banyak sekali makanan yang dihidangkan banyak pula para penikmat makanan yang berdesakan untuk berebut porsi besar, mungkin anda adalah sala satunya yang akan terdepak dari kursi meja makan si Jumawa? Dan akan bergabung dengan anjing-anjing dibawah meja, atau anda akan diberi kursi bayi dengan penahannya agar anda hanya bisa duduk ditempat menunggu disuap. Ya ini hanya suatu pemikiran dari bagian kecil anjing-anjing yang belum mendapatkan jatah makan, mungkin bila si anjing diberi sebuah kursi dia akan berhenti menyalak dan mulai menikmati santapan si Jumawa. Idelaisme anjing akan dibeli dengan sepiring nasi si Jumawa. Disaat seperti itu anda akan tidak sadar dan tidak akan bertanya lagi : oh dimana ketidak adilan, dimana harga diri, dimana idealisme, sungguh anda terlalu mengantuk untuk memikirkan itu karena terlalu kekenyangan menyantap hidangan si JUMAWA.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar