Minggu, 10 Januari 2010

Parodi: Anjing (1)

Kasarkah terdengarnya judul yang saya tulis ini? Di telinga saya, berbeda-beda terdengarnya. Ketika saya menggentak dengan suara keras: "Anjing!", maka saya yakin Anda akan berpikir saya adalah manusia yang mulutnya senantiasa ketinggalan di rumah, dan tidak turut ke sekolah untuk mendapat pendidikan. Meski sekarang ini, di sekolah tempat pendidikan diberikan saja, ada "anjing yang makan anak anjing".

Kalau saya hanya mengucapkan kalimat, "Awas anjing galak!", seperti peringatan yang selalu saya lihat di pagar rumah yang punya anjing galak, maka itu terdengar biasa-biasa saja, karena itu dianggap sebagai sebuah peringatan semata. Tentu saya tak tahu apakah peringatan itu juga memiliki arti ganda kalau yang punya rumah secara tidak langsung mau mengatakan, yang galak itu sebetulnya mereka, tetapi memakai anjing sebagai kambing hitamnya.

Karena sama seperti mengasuh anak, menjadi baik atau tidak baik, yaa… karena didikan orangtuanya. Jadi anjing menjadi galak, kok kemungkinannya bisa jadi karena yang memilikinya juga galak. Jadi binatang peliharaannya sampai bisa belajar dari sang majikan. Karena akal saya yang masih sehat meski belum tentu benar ini berpikir, tak ada manusia membeli binatang peliharaan, dalam hal ini anjing, dan memilih yang galak.

Atau bisa jadi, peringatan di pagar rumah itu hanya gertak sambal saja untuk menakut-nakuti orang dan mencegah maling masuk ke rumah. Nah yang tahu alasan mengapa peringatan itu sampai dipasangkan di pagar rumah itu, yaa… yang punya anjinglah yang tahu.

Mencari persamaan

Kalau kata anjing itu saya pakai sebagai sebuah tambahan untuk sesuatu yang mengagumkan, apakah itu pemandangan atau rumah atau apa pun, maka kata anjing di sini berfungsi sebagai penekan bahwa saya kagumnya setengah mati terhadap obyek yang saya anjingi itu. Sama seperti kata gila, misalnya. Dengarkan. "Anjing, keren banget rumahnya!" Maksud saya, bukan rumahnya anjing yang saya kagumi.

"Ada loh Mas rumah anjing yang keren," kata teman saya. Kemudian ia bercerita bahwa temannya membuatkan rumah anjingnya yang sama mewahnya dengan rumah tuannya. "Ke salon pula, Pak. Gak mau kalah ama elo. Rebonding bisa, keriting bisa," lanjutnya lagi. Ia masih nyerocos lagi. "Mas, kok dipikir-pikir elo jadi kayak anjing, ya….ha-ha-ha."

Nah, saudara, kalau Anda mendengar komentar teman saya itu, maka kata anjing menjadi guyonan atau sebuah penghinaan? Saya menanggapinya sebagai hinaan yang dikemas sebagai guyonan. Seperti kebiasaan saya, kalau mau menghina atau menyindir orang lain, yaaa… saya kemas dalam sebuah banyolan karena tak memiliki keberanian langsung mengatakan sebenarnya.

Dan sejujurnya, saya tak perlu tersinggung mendengar komentar teman saya itu karena saya memang mirip anjing. Perilaku saya tak beda banyak. Bedanya hanya kalau saya tak punya kaki empat. "Suara menyalaknya aja sama ya Mas," katanya lagi.

Sekarang kata anjing saya gunakan untuk menyatakan bahwa anjingnya memang lucu. "Aduh… anjingnya lutu banget." Bayangkan kalimat itu disuarakan dengan intonasi yang sok imut sambil memegang kepala atau pipi si anjing. Itu terdengar sangat normal karena kata anjing digunakan untuk menunjuk langsung binatang berkaki empat itu, dan bukan dipakai sebagai alat menyindir.

Saya pencinta golden retriever, menggemaskan, mukanya kelihatan naif dan cenderung kelihatan bego dan lovable. Teman saya nyeletuk lagi. "Nah itu juga mirip elo. Kelihatan bego gitu Mas. Kalau naif aku nggak tahu. Pura-pura naif kali, Mas," lanjutnya lagi. Ia tak bisa berhenti dan masih melanjutkan lagi. "Elo lovable? Hmmmmmm…..Gue pikir bisa jadi, makanya senengnya dicintai siapa saja sampai kayak obral besar. Untuk soal yang satu ini, gue tahu. Tahu banget," lanjutnya lagi.

"Doggy style"

Maka untuk menulis parodi ini, saya mengambil waktu sejenak untuk mencari persamaan dan bukan perbedaan antara saya dan anjing. Ternyata hasil yang saya dapatkan sangat memalukan. Dan kalau selama ini saya tak pernah merasa diri seperti anjing, maka setelah mencari dan mendapatkan persamaan itu, sejujurnya saya ternyata dari dulu yaaa….memang kayak anjing.

Makanya kalau ada yang membenci saya sampai sekarang dan mengata-ngatai saya anjing kamu, saya mestinya tak perlu tersinggung, karena kenyataannya memanglah demikian. Ya.. kecuali satu itu, kakinya empat.

Terus teman saya nyeletuk lagi. "Yaaaaa.. sama lagi Mas… kakinya empat," Saya balik bertanya mengapa ia sampai bisa berkata seperti itu. "Lah… Mas, elo sendiri yang bilang, kalau lagi bercinta elo sampai merangkak-rangkak pakai kaki sama dua tangan, apa ya itu nggak kayak anjing," lanjutnya lagi. Saya tertawa terpingkal-pingkal, antara tersinggung dan memang kenyataannya demikian. Hal yang satu ini, saya lupa waktu saya mencari persamaan antara diri saya dan anjing.

Terus saya ingat film biru yang pernah saya lihat, yang gaya bercintanya juga seperti anjing, yang orang katakan doggy style. Saya jadi tertawa, dan baru menyadari kalau untuk gaya bercinta saja manusia bisa menyontek anjing. Sementara, anjing saja tak pernah nyontek manusia dalam soal gaya bercinta. Mungkin sekarang saya mengerti mengapa saya juga berperilaku sehari-hari mirip binatang, karena naluri saya tak beda dengan binatang.

Menyalak, memarahi teman sejawat, sekretaris, sopir taksi kalau salah arah dan langsung mengasumsi bahwa ia sedang mengerjakan saya. Menggonggong, menyebarkan suara keras tentang kesalahan orang, yang sudah mirip poster yang disebarkan ke mana-mana. Bersuara errrrrr… kalau terancam, seperti anjing. Memasang muka galak, geram, dan menunjukkan gigi berikut taringnya agar orang lain takut. Apalagi kalau saya terpojok, seperti anjing.

Seperti anjing juga, saya pura-pura naif. Tetapi pada saat tertentu saya bisa menyerang orang seperti peringatan di pagar pintu itu. Saya bisa naif, bisa jahat. Bisa dipercaya tapi bisa juga menggigit orang yang memercayai saya. "Udah deh Mas, sampean itu tenane asu," sambil ngeloyor pergi.

Samuel Mulia, Penulis Mode dan Gaya Hidup

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar