Minggu, 10 Januari 2010

Parodi: Anjing (2)


Soal anjing pernah saya tulis. Sekarang "kesetrum" lagi. Jadi, saya menulis dengan judul sama sekali lagi. Seri kedua. Katakanlah begitu. Kesetrumnya gara-gara dua hal. Pertama, waktu menyimak tayangan Mbak Oprah soal anjing yang membuat beberapa manusia terpidana di dalam penjara memiliki kualitas hidup lebih baik. Terutama mengatasi kesepian dan tekanan batin.

Kedua, saya teringat sebuah kejadian tepat tanggal 31 Desember tahun lalu. Saya sedang berada di dalam taksi dan berhenti di lampu merah. Ketika saya menoleh ke kiri, pada mobil yang berdampingan dengan taksi, saya terpana dengan tulisan di pintu mobil Jeep itu. K9 Protection yang masih dibubuhi lambang bergambar kepala anjing dan bodycopy-nya yang mengelilingi gambar itu berbunyi: loyal, tough, dependable.

Lebih rendah

"Anjing," demikian saya mengucap, nyaris tak ada suaranya diikuti helaan napas yang panjang dan kemudian timbullah beberapa pertanyaan, Sederhana, tetapi menikam. Mencoba menghilangkan, tetapi susahnya setengah mati.

Begini pertanyaan itu. Mengapa anjing yang binatang malah dipakai sebagai "teman", bukan saya yang manusia? Kok bisa manusia digantikan binatang? Perlukah saya malu kalau ternyata anjing itu lebih berkualitas ketimbang saya, kualitas seperti yang ditunjukkan kata-kata di pintu mobil Jeep itu?

"Ya iyaaalaaahhh…. So, pasti, anjing lebih baik dari kamu," nurani saya mengambil kesempatan emas menghabisi saya yang sudah kesetrum. Kemudian nurani yang berteriak pagi hari itu langsung membuka borok sehingga ngeh ternyata saya memang lebih rendah dari anjing. Maka, tak salah kalau anjinglah yang menuntun, sementara saya ini cuma bisanya menuntut. Menuntun juga bisa, sih. Menuntun ke jurang, maksudnya.

"Pertama, mulut lo itu banyak omongnya." Demikian menurut nurani saya. Anjing punya mulut untuk menggonggong. Saya kalau sudah menggonggong tak bisa berhenti dan merasa gonggongan saya paling benar. Sebagai manusia saya lupa dan sering lupa atau pura-pura lupa manusia itu kadang hanya mau didengar, tak mau diberi petuah, meski nyata-nyata tindakannya salah.

"Kamu itu," kata nurani saya. "Makin orang salah, makin merasa itu kesempatan emas untuk menggonggong. Apalagi kalau satu tangan membawa kitab suci, tangan lain nunjuk-nunjuk. Kamu itu belajar jadi pendengar yang baik, bukan pengkhotbah yang menghakimi," lanjut dia lagi.

Saya membalas sambil berbisik. "Namanya juga pengkhotbah, bukankah tujuan akhirnya menghakimi meski caranya sehalus sutra?" Nurani saya langsung membentak, "Syaaatttt… appp."

Tetap masih rendah

Nah, anjing tak bisa berbahasa manusia, tetapi sangat mampu berbicara dengan manusia. Ketika berbicara, anjing tak bisa membawa kitab apa pun dan tak bisa menggerakkan telunjuknya untuk menuding. Dia hanya bisa menatap dengan nurani. Biasanya ditandai dengan air mata sedih, kepala tertunduk, yang menyiratkan ia mengerti pemiliknya sedang bersedih hati.

Atau ia akan mengibaskan ekornya tanda bersenang hati. Kibasannya tak bisa diatur, tetapi otomatis, karena sukacita dari dalam. Loyalitasnya tak bisa dibuat-buat, itu sudah dari sononya. Tidak seperti saya yang selalu jeli dan penuh siasat mengatur kapan perlu mengibas dan kapan perlu loyal.

Tak seperti anjing yang senang setiap kali pemiliknya pulang ke rumah setelah seharian ditinggal, saya tak selalu bisa senang saat pasangan saya pulang, dan kadang berharap ia tak pulang-pulang. Itu mengapa saya mengibas di tempat lain, yang lebih membahagiakan. Itu karena sifat loyal saya lebih rendah dari anjing. "Hi-hi-hi… mungkin jij juga enggak punya loyalitas." Suara dari dalam itu susah sekali dibungkam.

Kedua, kata nurani saya, mulut saya seperti air sungai yang mengalir alias tukang gosip. Anjing menyalak, menggonggong, tetapi tak bisa menggosip. Saya membalas sambil berbisik lagi, "Siapa bilang? Kita aja yang enggak tahu. Kalau anjing menggonggong, artinya doi lagi ngomongin manusia. Eh… tuan gue ternyata cong, bo...." Nurani saya tak bisa terima, "Bisa diem enggak?"

Ketiga, yang namanya anjing itu tak pilih bulu. Ia menuntun orang buta dan orang melek, dipelihara manusia bawel atau yang rendah hati, rendah diri atau bahkan yang tak punya harga diri. Miskin atau kaya, jelek atau cantik, retardasi mental atau kelewat pandai, no problemo.

Kalau saya ini milih-milih bulu. Yang kaya saya tolong, yang miskin nanti dulu. Saya malas dan tidak sabar menuntun orang buta. Saya tak setangguh anjing. Enggak sabaran, mudah menyerah, mudah rapuh, makanya tak bisa menjadi tempat bergantung.

Kalau saya mengendus dan menemukan sesuatu yang tidak benar dan kebetulan yang saya endus manusia VVIP, saya bisa memanipulasi endusan saya karena tangan saya sudah keburu ditempeli sesuatu dan di garasi mobil sudah ada kendaraan roda empat baru. Saya tidak tough.

Anjing tak mungkin pilih bulu dan sangat tangguh. Mau dikasih mobil la wong enggak bisa nyetir. Mau dikasih duit enggak bisa buka tabungan dan beli reksa dana. Dikasih makan dan tulang saja, masih bisa mengendus kemudian menyalak kalau ada yang tidak beres. Makanya bernama anjing pelacak. Saya tak membayangkan ada anjing pelacak kena sogokan terus berhenti melacak.

Itu mengapa anjing dilatih manusia untuk menuntun, bukan manusianya yang dilatih menuntun. Makanya dengan saya manusia lain itu tak bisa memiliki kualitas hidup lebih baik. Pagi itu saya disetrum, ternyata saya lebih rendah dari anjing.

Kalau sekarang ada yang mengatai saya anjing, saya tak perlu marah. Mungkin saya harus memandangnya dari sudut positif. Kalau saya dianjingkan, itu artinya saya dianggap loyal, tough, dependable. "Samuel Mulia… sit… c'mon… sit… yes… good dog…."

Samuel Mulia, penulis mode dan gaya hidup

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar